Bagaimana menyentuh hati dalam dakwah
![]() |
| Bagaimana menyentuh hati dalam dakwah |
Bismillah,,,,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh..
Segala puji syukur hanyalah milik Allah Subhaanallahu Wata’ala. Yang telah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk yang lain dengan kelebihan akal dan nafsu. Dan telah memberikan betapa banyak nikmat, hidayah, serta taufiq-Nya, sehingga kita masih bisa tersenyum gembira, masih diberi kemampuan untuk menjalankan segala perintahNya dengan tujuan mengharapkan rahmatNya untuk masuk surgaNya yang indah. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia terbaik yang diutus Allah untuk merubah akhlak manusia, mengubah peradaban dunia dengan pintu dakwah yang hasanah.
Sahabatku,, kali ini izinkan saya berbagi ilmu sedikit dan singkat namun insyaAllah terdapat banyak manfaat didalamnya. Saya ingin berbagi tentang:
“Bagaimana menyentuh hati dalam dakwah”.
Sahabatku,
Dakwah merupakan sebaik-baik perkataan. Sebagimana Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [فصلت : 33]
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih, dan berkata : “Sesunguhnya aku termasuk orang-orang muslim ( yang berserah diri)”. (QS. Fusshilat : 33).
Dari ayat diatas menunjukkan perkataan yang paling baik adalah perkataan orang yang mengajak atau mendakwahi seseorang ke jalan kebaikan. Dengan dakwah, kalimat Allah tegak di muka bumi, kebenaran tersebar, kebaikan tersiar, dan keindahan terpancar. Maka seharusnya kita sebagai seorang muslim, para pengemban dakwah dan orang-orang yang merasa terpanggil oleh seruan dakwah harus segara singsingkan lengan baju memenuhi panggilan Allah.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
{وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [آل عمران : 104]
Artinya : “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru pada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ‘imran : 104).
Sahabatku..
Di zaman sekarang ini, dengan semangat tinggi banyak orang menyeru kepada kebenaran dan kebaikan, tetapi banyak diantara kita atau mereka yang tidak mengetahui cara bagaimana mengambil hati objek dakwah kita. Sehingga tidak heran kalau banyak orang yang masih belum bisa menerima dakwah kita. Padahal Rasulullah telah mengajarkan kepada kita metode dakwah yang mudah untuk diterapkan dan mencakup segala sisi kehidupan. Sehingga siapapun yang ingin berdakwah insyaallah tidak akan mengalami kesulitan. Bukankah Allah telah mengklaim Rasulullah sebagai panutan terbaik manusia dalam firman-Nya :
{لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب : 21]
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS. Al-Ahzab: 21)
Selain itu Allah juga telah mengajarkan cara berdakwah yang baik, tersebut dalam firman-Nya :
{ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [النحل : 125]
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik...”. (QS. An-nahl : 125).
Sahabatku..
Salah satu metode yang terbaik dalam dakwah adalah dakwah fardiyah. Apa itu?. Yaitu dakwah yang dilakukan secara personal, memahami karakteristik seseorang lebih dalam, mengapa? karena setiap orang memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda.
Ada beberapa yang harus diperhatikan seorang da’i dalam berdakwah sehingga dapat menyentuh hati objek dakwah, diantaranya adalah:
Yang pertama: para da’i harus terlebih dahulu memberikan uswatun hasanah, menampilkan dihadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam. Baik itu tutur kata, penampilan pakaian, perilaku-perilaku kecil seperti adab makan dan minum, dan lain-lain. Karena dengan hal ini masyarakat akan lebih tertarik dan terkesan pada pandangan pertama.
Yang kedua adalah memanggil namanya dengan nama yang paling ia sukai jika sudah mengenalnya. Jika belum, maka sapalah dan ajaklah berkenalan dengan menanyakan hal-hal yang umum saja seperti nama, asal, tempat tinggal, dan lainnya.
Kemudian yang ketiga adalah mencoba memahami sifat dan karakteristik objek dakwah kita agar tidak salah dalam mengajaknya. Setelah kita sudah menyapanya dan berkenalan dengannya maka teruslah jalin kedekatan, seperti meminta no HP, akun sosmed nya dan bangunlah komunikasi sebaik mungkin. Sehingga objek dakwah kita merasa aman dan nyaman, dengan itu ia akan lebih terbuka dan membuat kita lebih mudah untuk memahami sifat dan karakteristiknya.
Yang kempat barulah kita ajak untuk sekedar mengenal islam, cukup diawali dengan perkara-perkara yang pokok, tidak membahas hal-hal furu’ yang masih diperselisihkan, atau sesuatu yang ghaib.
Kemudian yang kelima adalah hendaklah para da’i ketika berdakwah seakan-akan sedang memberikan hadiah kepada orang lain. Bukan berlagak seperti ulama atau fuqoha’. Ini dengan tujuan supaya objek dakwah merasa nyantai, nyaman, dan tidak terlalu terbebani, terutama kepada orang awwam dan orang yang baru mengenal islam.
Dan cara-cara ini merupakan sebagian kecil saja dari berbagai cara berdakwah. Akan tetapi kelima cara ini merupakan cara yang paling utama yang harus diperhatikan bagi setiap da’i. Dengan melakukan cara-cara tersebut dan selalu istiqomah dalam melakukannya serta dibentengi dengan niat yang ikhlas karena Allah dan tawakkal, maka dengan izin Allah dakwah yang kita serukan dapat diterima dengan hati yang senang tanpa adanya paksaan.
Sekian kata hikmah singkat yang bisa saya bagikan, mohon maaf masih banyak kekurangan dan kesalahan. Semoga bermanfaat bagi kita semua selaku para pengemban dakwah. Selamat mencoba. ☺☺
Terakhir, ada sebuah kata nasehat dari Imam Syahid Hasan Al-Banna yang berbunyi :
“Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda, ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah. Sebaliknya siapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang yang hanya duduk-duduk saja”.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Komentar
Posting Komentar